Langsung ke konten utama

Gen Z Coba Lepas dari Dunia Digital: Berhasil atau Kena Digital Fatigue?


Gen Z selalu hidup dalam dua dunia, yaitu dunia nyata sama dunia digital. Setengah dari waktu mereka aja sudah dihabiskan di dunia digital.


Mulai dari cari informasi, dapat promo restoran viral, sampai cara pakai dasi aja harus lihat tutorial di Youtube. Semudah itu Gen Z dapat solusi dari kendala di hidupnya.


Eits.. ada satu masalah lagi nih yang Gen Z tahu dan sadar, tapi masih nggak bisa lepas. Keluar sesaat dari dunia digital, Eh.. Sudah niat buat stop sebentar, malah dipaksa keadaan untuk selalu on 24/ 7 🫠


Mau tahu nih betapa kerasnya Gen Z coba lepas dari dunia digital sampai akhirnya kelelahan dan timbul masalah baru? Atau berhasil kabur sebentar?


Simak artikel ini sampai habis yaa!

Struggle Gen Z buat Seimbangkan Dunia Nyata dan Digital

Berangkat dari realita itu, mari pahami dulu konflik utama Gen Z di dua dunia ini. Gen Z hidup di era serba cepat dan serba online. 


Bangun tidur cek notifikasi, kerja atau kuliah via layar, hiburan pun lewat gadget. Dunia digital jadi alat bantu hidup, tapi pelan-pelan juga jadi sumber tekanan. 


Contoh sehari-harinya, niat rebahan buat istirahat malah berujung scroll TikTok berjam-jam, lalu merasa bersalah karena waktu habis tanpa sadar.


Kalau struggle-nya sudah terasa, sebenarnya apa sih yang lagi dialami tubuh dan pikiran?

Apa sih itu Digital Fatigue bagi Gen Z?

Digital fatigue adalah kondisi kelelahan fisik dan mental akibat paparan digital berlebihan. Menurut Masindo, kondisi ini bisa mempengaruhi fokus, emosi, dan kesehatan secara keseluruhan. Rasa lelah ini muncul bukan cuma dari layar, tapi juga dari tuntutan selalu connected.


Sederhananya, ini kayak otak kamu kerja lembur terus tanpa libur. Contohnya, habis Zoom meeting seharian, kamu malah merasa lebih capek dibanding aktivitas fisik.


Nah, tapi kenapa Gen Z yang paling sering kena?


Baca Juga Media Sosial: Sahabat atau Musuh Kesehatan Mental Kamu?

Kok Bisa Gen Z Merasakan Itu?

Digital Fatigue atau Kelelahan Digital menyebabkan Gen Z tuh merasa kewalahan buat mengolah informasi dari internet, mata lelah, sakit kepala, sulit untuk fokus sampai merasa tidak produktif seperti biasa.


Interaksi melalui platform digital pada dasarnya memerlukan usaha yang besar dari otak. Apabila dilakukan secara berlebihan dan berkepanjangan, ini dapat mengganggu fungsi dan kerja otak. Otak pun akhirnya menjadi terlalu fokus (hyper-focused) dan terstimulasi (overstimulated). 


Cahaya biru atau blue light dari perangkat elektronik yang kamu gunakan secara langsung akan mempengaruhi mata dan saraf mata (retina) yang langsung menuju otak. 


Paparan berlebihan dari blue light ini bukan hanya berbahaya untuk mata, melainkan juga akan membuat otak kelelahan.


Posisi duduk, berbaring, serta kurang gerak (sedentary lifestyle) bisa membuat peredaran darah tidak lancar dan memicu gangguan otot hingga persendian.

Ini Nih Tanda-Tanda Gen Z Kena Digital Fatigue

Dilansir pada laman Hello Sehat, kasih tahu kalau Gen Z udah mulai merasakan kelelahan mental, biasanya akan ditunjukkan dari emosi dan fisik:

Tanda Emosional

  • Merasa bosan, lelah, atau jenuh dengan aktivitas digital sehari-hari. Contohnya, malas ikut Zoom atau webinar meski topiknya menarik.

  • Mudah merasa kewalahan karena terlalu banyak informasi dari internet. Timeline penuh bikin otak susah istirahat.

  • Sulit fokus menyelesaikan satu tugas tanpa tergoda buka aplikasi lain. Baru lima menit, tangan sudah refleks buka media sosial.

  • Emosi jadi lebih sensitif, gampang kesal, atau cepat capek secara mental. Notifikasi kecil saja bisa bikin stres.

  • Merasa tidak seproduktif biasanya walau online seharian. Banyak waktu terpakai, tapi hasilnya terasa minim.

Tanda Fisik

  • Mata terasa perih, kering, atau panas setelah menatap layar lama. Biasanya makin kerasa saat malam hari.

  • Sakit kepala atau pusing yang muncul tanpa sebab jelas. Terutama setelah screen time panjang.

  • Tubuh terasa lemas dan kurang energi walau tidak banyak bergerak. Bangun tidur pun rasanya masih capek.

  • Leher, bahu, dan punggung sering pegal akibat posisi duduk terlalu lama. Apalagi kalau jarang stretching.

  • Pola tidur terganggu karena paparan layar sebelum tidur. Ngantuk sih, tapi susah benar-benar terlelap.

Setelah sadar tanda-tandanya, langkah selanjutnya adalah mencegahnya.


Baca Juga Dampak Lingkungan Kerja Terhadap Kesehatan Mental Karyawan

Jurus Mencegah Digital Fatigue buat Gen Z

Jurus paling umum tuh biasanya, Gen Z memaksa dirinya untuk tidak masuk ke dunia digital atau menghindari tools nya seperti gadget, smartphone, laptop, atau smart tv.


Namun, itu saja belum cukup harus. Kenapa?

Karena efeknya cuma sebentar aja, kalau setiap hari sudah mulai ganggu keseharian Gen Z, kayaknya perlu banget jurus ampuh lainnya. Kalau kata Hello Sehat nih, Gen Z perlu mencoba:

  1. Istirahat sejenak dan berkali-kali tapi berkualitas

  2. Jadwalkan aktivitas antara dunia digital dengan dunia nyata

  3. Konsumsi atau makan camilan yang bergizi

  4. Hindari sesaat kegiatan digital, move on ke duniamu


Langkah-langkah itu sebenarnya disebut ‘digital detox’ yang punya efek wtihdrawal atau efek dari digital diputus secara sengaja dengan kamu menjauh sesaat secara digital.

Kalau Kamu Gen Z’s Sudah Berhasil atau Masih Stuck?

Akhirnya, semua balik ke keputusan pribadi masing-masing. Memang sih coba lepas dari dunia digital dan fokus di dunia nyata memang tricky. Namun, bukan juga hal yang tidak mungkin dilakukan. 


Mulai dari menjauh sejenak sama kegiatan digital, kabur ke alam bentar, makan dan ngemil yang sehat atau whole food aja. Seblak, chiki dan yang sejenis stop dulu, cari buah, panggang protein hewani atau nabati kalau kamu craving yang crispy dan renyah, sampai ganti minuman boba dan kopi viral sama susu murni yang tinggi gizi.


Apapun hasilnya, mau itu berhasil atau masih stuck di tengah jalan, Kamu aka Gen Z udah berani buat lakuin yang terbaik buat tubuh dan kesehatan mentalmu!

FAQ

1. Apakah digital fatigue sama dengan kecanduan gadget?

Tidak sama. Digital fatigue lebih fokus pada kelelahan fisik dan mental akibat paparan layar berlebihan. Kamu bisa saja tidak kecanduan, tapi tetap merasa capek, sulit fokus, dan emosional karena tuntutan digital yang terus-menerus.

2. Apakah digital detox harus berhenti total dari internet?

Tidak harus. Digital detox yang realistis justru dilakukan bertahap. Kamu tetap bisa online untuk kebutuhan penting, tapi mengurangi aktivitas yang bikin lelah mental.

3. Berapa lama jeda layar yang ideal?

Kamu bisa mulai dari jeda 5–10 menit setiap satu jam screen time. Aturan 20-20-20 juga membantu mengurangi kelelahan mata.

4. Apakah digital fatigue memengaruhi kesehatan mental?

Iya. Digital fatigue bisa memicu stres, cemas, sulit tidur, dan penurunan motivasi. Kalau dibiarkan, dampaknya bisa makin serius.

5. Langkah paling mudah mengurangi digital fatigue?

Mulai dari hal kecil, seperti tidak langsung membuka HP setelah bangun tidur atau sebelum tidur. Kebiasaan kecil ini membantu otak beristirahat.


Sumber:

Hello Sehat



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja Buat Obat Sedih? Coba Cara Baru Lewat Emotional Budgeting!

Photo by Katie Harp on Unsplash ‘Aku Pantas Bahagia’ /Checkout Boneka Labubu/  ‘Capeknya.. Habis WFH 3 Jam.. Perlu order makanan viral nih!’ Kalau kamu pernah mengalami hal-hal diatas? Aku sih iya! Fenomena itu  tanpa sadar kita melakukan berkali-kali. Itu disebut sebagai emotional spending, belanja karena emosi, bukan kebutuhan. Sesekali sih nggak masalah. Tapi kalau jadi kebiasaan harian yang bikin dompet megap-megap di akhir bulan. Rethink it, bestie! Gimana sih caranya tetap kasih diri ini self reward dan dompet tetap sehat ? Jawabannya.. Emotional budgeting. Penasaran tentang Emotional Budgeting?  Tenang.. Artikel ini bakal bahas kenapa emotional budgeting itu penting, tanda kalau kamu udah perlu terapin, sampai cara praktis dan gampang untuk diaplikasikan ke pengelolaan keuanganmu.  Baca terus sampai habis yaa! Kenapa Emotion...

Senyum Lebar vs Senyum Kalem: Mana yang Lebih Menarik?

Photo by Zhuo Cheng you on Unsplash Setiap orang punya senyum dengan charm yang berbeda-beda. Mungkin senyum kelihatan gigi agar terkesan ceria atau senyum tanpa terlihat gigi berasa lagi senyum karir. Kamu pernah bandingin foto selfiemu yang seyum lebar dengan senyum kalem, kemudian mikir.. “Kok aku senyum kelihatan giginya agak memaksa ya?” “Senyum yang gak kelihatan gigi terlihat kalem sih.. Kayak berasa kaku banget.” Faktanya cara kamu senyum lebar kelihatan gigi dengan senyum kalem tanpa kelihatan gigi bisa punya vibe yang beda banget di mata orang lain. Kamu penasaran gak sih? Kenapa bisa gitu? Yuk, kita kulik bareng dari kata psikologi senyum di artikel ini! 

5 Cara Bangun Emergency Fund Buat Gen Z

Photo by Aconitum on Unsplash “Self-care itu me time & journaling.” Buat Gen Z, ini bukan cuma kalimat manis, tapi bentuk nyata peduli sama diri sendiri di tengah dunia yang makin ribet. Sayangnya, dari sekian banyak jenis self-care, masih jarang yang masukin financial care ke dalam daftar mereka. Padahal tekanan ekonomi, inflasi, dan hustle culture udah jadi realita sehari-hari. Menurut survei Bankrate (2023) , cuma 44% Gen Z yang punya emergency fund cukup buat tiga bulan ke depan. Artinya? Banyak yang sadar pentingnya, tapi belum mulai jalanin. Kalau kamu udah rutin journaling dan skincare-an, mungkin sekarang waktunya nambah satu list lagi aka bangun Emergency Fund buatmu Gen Z. Karena artikel ini bakal bahas 5 cara simpel yang bisa bantu kamu mulai dari sekarang. Gen Z Tahu Harus Nabung, Tapi Minim Eksekusi Gen Z sering disebut sebagai genera...

Kenalan Sama Cashless Anxiety Yang Bikin Cemas Para Gen Z

Photo by SumUp on Unsplash Dulu sebelum hangout bareng besti, pasti cek saldo e-wallet atau mobile banking dulu biar aman pas bayar. Belum lagi cek speed test internet supaya transaksi nggak lama. Bakalan deg-degan banget kalau pembayaran loading, apalagi antrean di belakang udah mengular.  Bagi Gen Z yang hidupnya udah bergantung sama pembayaran digital. Semua pembayaran dari parkir, jajan, sampai belanja kecil pun lewat smartphone.  Nah... dari sinilah awal munculnya cashless anxiety. Karena terbiasa merasa aman dengan  cashless , Gen Z jadi panik saat ketemu tempat yang cuma terima uang tunai. Jadi kebiasaan nanya dulu sebelum beli: “Bisa bayar pakai QRIS?” “Terima GOPAY, DANA, atau ShopeePay, nggak?” Perilaku ini bakal jadi tanda awal cashless anxiety.  Yuk kenalan sama cashless anxiety, kenapa bisa muncul, dampaknya sampai cara...

Kenapa Financial Anxiety Bisa Bikin KIta Capek Mental?

Photo by Nik on Unsplash Siapa nih yang udah mulai deg-degan tiap masuk minggu gajian? cek rekening,  cek e-mail,  cek mutasi bank, padahal cuma mau lihat apakah saldo masih aman atau ada cicilan yang tiba-tiba nongol. Kalau kamu sering ngerasain hal itu, mungkin itu  financial anxiety . Fenomena ini bikin kondisi pikiran kita terus membayangkan uang akan “hilang,” anggaran bakal jebol, atau status finansial tiba-tiba kacau. Masalahnya, semua itu sering kali cuma ada di kepala . Kalau dibiarkan, financial anxiety bisa bikin kamu capek duluan sebelum akhir bulan. Nah, artikel ini akan bahas kenapa kecemasan ini muncul, apa dampaknya, dan gimana cara praktis buat mengatasinya biar hidup (dan dompet) terasa lebih ringan. Yuk, lanjut baca 👇 Kenapa Financial Anxiety Bakal Bikin Kita Capek Mental? ...