Langsung ke konten utama

Hidup untuk Makan vs Makan untuk Hidup: Mana yang Kamu Alami?

Sekumpulan makan bersama untuk melanjutkan hidup
Photo by Toa Heftiba on Unsplash

Kamu mungkin sering denger, 

“Aku mah makan buat hidup yang penting udah diisi nasi itu cukup,” 

sama..

“Aku hidup buat makan. Apapun makanannya, mereka punya history yang seru dikulik pokoknya.” 

atau salah satunya itu kamu?

Memang dua statement ini punya kata-kata yang sama, tapi dari segi makna beda banget.

Kamu bisa lihat si A makan nasi banyak dan lauk nya sedikit banget. Kamu mungkin bertanya-tanya ‘emang cukup lauknya kalau nasi sebanyak itu?’ Padahal si A ini menerapkan ‘Aku makan buat hidup. Perut kenyang, Kerjaan kelar.’

Namun si B makan makanan yang unik dan jarang ditemuin, apalagi porsinya cuman secuil. si B bahagia banget dari foto makanan sampai kasih pujian ke koki nya. Kalau si B ini terapin “Aku hidup buat makan.”

Artikel ini bakal bahas apa sih yang membedakan hidup untuk makan vs makan untuk hidup dari sisi psikologi nya, yuk bahas!

Baca juga Ngidam Burger Kok Jadi Nostalgia?: 5 Comfort Food yang Bikin Momen Lama Terulang 

Makna Psikologi “Hidup untuk Makan vs Makan untuk Hidup”

Makanan itu kebutuhan dasar manusia. Ibaratnya tuh Manusia makan, Manusia berfungsi.

Ini relevan sama teori Kebutuhan dasar dari Abraham Maslow (1943). Kebutuhan fisiologis sebagai batas dasar yang harus dipenuhi dalam fase hidup manusia.

Kalau kebutuhan dasar sudah terpenuhi, maka manusia bisa survive dan berfungsi sebagaimana adanya. Hal itu menunjukkan makna apa itu makan buat hidup, biar ‘aku’ bisa hadapi hari ini dengan baik. 

Bakalan berbeda dengan hidup untuk makan. Pernah denger ungkapan ini “Hari ini kerjaan udah selesai.. Matcha latte enak kali ya”? Kalau kamu pernah denger, apa sih artinya?

Yup! Reward!

Setiap selesain milestone hidupnya, banyak orang yang menjadikan makanan sebagai bentuk reward emosional. Namun, pengalaman hidup dapat memengaruhi cara pandang mereka terhadap makanan secara signifikan (Boggiano et al, 2014)

Sistem reward ini nunjukkin usaha yang sudah dia lakukan dan pantas untuk merayakannya. Tentu hal ini, kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi dan kebutuhan lainnya pun juga sudah. 

Dua hal tersebut bukan kasih tahu mana yang lebih baik. tapi mau kasih tahu realita yang di pilih oleh orang-orang tersebut. Pilihan-pilihan itu cerminan hidupnya dan survive-mode mereka.

Transformasi “Makan untuk Hidup ke Hidup untuk Makan”

Kisah ini bakal kasih tahu kamu kalau dua statement ini bisa berubah seiring berjalannya waktu.

“Semasa kecil makanan itu hal krusial dan membahagiakan sampai harus makanan ‘itu’ yang bisa membawa keceriaan ke dalam hidup. Mulai beranjak dewasa, kondisi untuk memenuhi kebahagiaan tersebut sudah hilang, makanan enak dan happy-vibe sudah tidak ada. Hanya ada makanan untuk berfungsi dan berperan sebagai manusia seadanya. Apapun makanan nya akan dimakan tanpa menyisakannya.”

Apasih yang bisa kita maknai dari kisah diatas?

Berawal Krisis ke Kesadaran: Ini Kata Psikologi

Mari kita bahas bareng biar bisa memaknai dan paham “Hidup untuk Makan vs Makan untuk Hidup”

1. Comfort Food & Emotional Connection

Mulai dari “Semasa kecil makanan itu hal krusial dan membahagiakan sampai harus makanan ‘itu’ yang bisa membawa keceriaan ke dalam hidup…”

Bagian ini, masih menjelaskan bagaimana ‘Hidup untuk Makan.’ Makanan hal yang sangat berarti dan punya peran besar dalam hidupnya yang menunjukkan comfort food dan ikatan emosional dengan makanan.

2. Transformation

Kemudian, “...Mulai beranjak dewasa, kondisi untuk memenuhi kebahagiaan tersebut sudah hilang, makanan enak dan happy-vibe sudah tidak ada…”

Krisis mulai terjadi dan menjadi pintu adanya transformasi dari Hidup untuk Makan jadi Makan untuk Hidup. Kalau kata Psikologi, transformasi ini dikenal sebagai Post-Traumatic Growth.

Post-Traumatic Growth dari Tedeschi & Calhoun (2009) yang menjelaskan kalau pengalaman sulit, seperti krisis ekonomi atau penyakit, bisa mengubah makna hidup seseorang, termasuk cara mereka melihat makanan

3. Reflective & Accept

Akhirnya, “Hanya ada makanan untuk berfungsi dan berperan sebagai manusia seadanya. Apapun makanan nya akan dimakan tanpa menyisakannya.”

Titik ini sudah mulai lebih reflektif dan bersyukur akan hubungannya dengan makanan (Kristeller & Wolever, 2011). Makna aktivitas makan sudah berubah dan lebih sadar akan makanan itu bukan hanya sebatas happy-vibe dan comfort food, tapi bawa nilai yang lebih dari itu. 

Jadi...

Apapun prinsip yang kamu bawa dalam hidup berkaitan dengan makanan atau aspek kehidupan lainnya bisa berubah dan punya makna mendalam disetiap transisi nya.

Perubahan makna itu wajar. Kadang kita hidup untuk makan, kadang makan untuk hidup. Keduanya bisa menjadi bentuk cinta pada diri sendiri atau pada hidup itu sendiri.

Let’s embrace it!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belanja Buat Obat Sedih? Coba Cara Baru Lewat Emotional Budgeting!

Photo by Katie Harp on Unsplash ‘Aku Pantas Bahagia’ /Checkout Boneka Labubu/  ‘Capeknya.. Habis WFH 3 Jam.. Perlu order makanan viral nih!’ Kalau kamu pernah mengalami hal-hal diatas? Aku sih iya! Fenomena itu  tanpa sadar kita melakukan berkali-kali. Itu disebut sebagai emotional spending, belanja karena emosi, bukan kebutuhan. Sesekali sih nggak masalah. Tapi kalau jadi kebiasaan harian yang bikin dompet megap-megap di akhir bulan. Rethink it, bestie! Gimana sih caranya tetap kasih diri ini self reward dan dompet tetap sehat ? Jawabannya.. Emotional budgeting. Penasaran tentang Emotional Budgeting?  Tenang.. Artikel ini bakal bahas kenapa emotional budgeting itu penting, tanda kalau kamu udah perlu terapin, sampai cara praktis dan gampang untuk diaplikasikan ke pengelolaan keuanganmu.  Baca terus sampai habis yaa! Kenapa Emotion...

Senyum Lebar vs Senyum Kalem: Mana yang Lebih Menarik?

Photo by Zhuo Cheng you on Unsplash Setiap orang punya senyum dengan charm yang berbeda-beda. Mungkin senyum kelihatan gigi agar terkesan ceria atau senyum tanpa terlihat gigi berasa lagi senyum karir. Kamu pernah bandingin foto selfiemu yang seyum lebar dengan senyum kalem, kemudian mikir.. “Kok aku senyum kelihatan giginya agak memaksa ya?” “Senyum yang gak kelihatan gigi terlihat kalem sih.. Kayak berasa kaku banget.” Faktanya cara kamu senyum lebar kelihatan gigi dengan senyum kalem tanpa kelihatan gigi bisa punya vibe yang beda banget di mata orang lain. Kamu penasaran gak sih? Kenapa bisa gitu? Yuk, kita kulik bareng dari kata psikologi senyum di artikel ini! 

5 Cara Bangun Emergency Fund Buat Gen Z

Photo by Aconitum on Unsplash “Self-care itu me time & journaling.” Buat Gen Z, ini bukan cuma kalimat manis, tapi bentuk nyata peduli sama diri sendiri di tengah dunia yang makin ribet. Sayangnya, dari sekian banyak jenis self-care, masih jarang yang masukin financial care ke dalam daftar mereka. Padahal tekanan ekonomi, inflasi, dan hustle culture udah jadi realita sehari-hari. Menurut survei Bankrate (2023) , cuma 44% Gen Z yang punya emergency fund cukup buat tiga bulan ke depan. Artinya? Banyak yang sadar pentingnya, tapi belum mulai jalanin. Kalau kamu udah rutin journaling dan skincare-an, mungkin sekarang waktunya nambah satu list lagi aka bangun Emergency Fund buatmu Gen Z. Karena artikel ini bakal bahas 5 cara simpel yang bisa bantu kamu mulai dari sekarang. Gen Z Tahu Harus Nabung, Tapi Minim Eksekusi Gen Z sering disebut sebagai genera...

Kenalan Sama Cashless Anxiety Yang Bikin Cemas Para Gen Z

Photo by SumUp on Unsplash Dulu sebelum hangout bareng besti, pasti cek saldo e-wallet atau mobile banking dulu biar aman pas bayar. Belum lagi cek speed test internet supaya transaksi nggak lama. Bakalan deg-degan banget kalau pembayaran loading, apalagi antrean di belakang udah mengular.  Bagi Gen Z yang hidupnya udah bergantung sama pembayaran digital. Semua pembayaran dari parkir, jajan, sampai belanja kecil pun lewat smartphone.  Nah... dari sinilah awal munculnya cashless anxiety. Karena terbiasa merasa aman dengan  cashless , Gen Z jadi panik saat ketemu tempat yang cuma terima uang tunai. Jadi kebiasaan nanya dulu sebelum beli: “Bisa bayar pakai QRIS?” “Terima GOPAY, DANA, atau ShopeePay, nggak?” Perilaku ini bakal jadi tanda awal cashless anxiety.  Yuk kenalan sama cashless anxiety, kenapa bisa muncul, dampaknya sampai cara...

Kenapa Financial Anxiety Bisa Bikin KIta Capek Mental?

Photo by Nik on Unsplash Siapa nih yang udah mulai deg-degan tiap masuk minggu gajian? cek rekening,  cek e-mail,  cek mutasi bank, padahal cuma mau lihat apakah saldo masih aman atau ada cicilan yang tiba-tiba nongol. Kalau kamu sering ngerasain hal itu, mungkin itu  financial anxiety . Fenomena ini bikin kondisi pikiran kita terus membayangkan uang akan “hilang,” anggaran bakal jebol, atau status finansial tiba-tiba kacau. Masalahnya, semua itu sering kali cuma ada di kepala . Kalau dibiarkan, financial anxiety bisa bikin kamu capek duluan sebelum akhir bulan. Nah, artikel ini akan bahas kenapa kecemasan ini muncul, apa dampaknya, dan gimana cara praktis buat mengatasinya biar hidup (dan dompet) terasa lebih ringan. Yuk, lanjut baca 👇 Kenapa Financial Anxiety Bakal Bikin Kita Capek Mental? ...